Saya Direkrut Jaringan NII

26 04 2011

Akhir-akhir ini sedang marak berita tentang orang hilang yang diduga menjadi korban doktrinasi NII atau yang populer disebut ‘N Sebelas’. Kebanyakan adalah anak muda atau seseorang yang labil sehingga mudah didoktrin.  Sebenarnya saya pun pernah mengalami hal serupa, mendapat doktrin-doktrin dari orang yang baru saya kenal yang saya duga orang tersebut berasal dari kelompok NII.

Proses Perekrutan

Saat itu, sekitar tahun 2002 saya menikmati libur panjang setelah lulus dari SMA untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Suatu hari saya diundang teman-teman saya yang tergabung dalam Alumni Forum Pelajar Muslim se-Bekasi (FPMB) di Masjid Islamic Center Bekasi untuk sekedar silaturahim dan membicarakan organisasi. Saya menunggu kehadiran teman-teman yang lain di pelataran Masjid. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menggunakan pakaian casual, celana jeans dan bertopi mengampiri saya serta berbincang-bincang tentang Islam dengan gaya yang cukup ramah. Meskipun secara fisik orang tersebut tidak menunjukkan perfomance sebagai seorang Ustadz tetapi gaya bicaranya amat fasih, sesekali ia mengeluarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan menyitir hadits. Saya pun cukup larut dalam alur pembicaraan yang disampaikannya karena memang ia terlihat sangat menguasai topik perbincangan sehingga sepertinya saya masuk ke dalam ‘perangkap’ kata-kata yang sangat persuasif tersebut. Tidak lama kemudian teman-teman saya mulai berdatangan untuk memulai acara silaturahim dan laki-laki tersebut juga pamit dengan saling bertukar nomor telepon dan ia mengajak saya agar berkunjung ke rumahnya untuk sekedar silaturahim.

Keesokan harinya saya mendapat telepon dari orang yang tidak saya kenal, dan ternyata orang tersebut adalah laki-laki yang bertemu saya di pelataran Masjid kemarin yang mengaku bernama Tanto. Ia mengajak saya untuk main kerumahnya hari itu, kebetulan saya pun tidak memiliki agenda sehingga saya bersedia untuk pergi ke rumahnya di sekitar daerah Jatibening, Bekasi Barat.

Pagi itu saya langsung bersiap-siap untuk berangkat dari rumah menuju Jatibening dengan menggunakan sepeda motor. Saya janjian dengan Mas Tanto di traffic light Sumber Artha. Setelah bertemu di traffic light saya langsung menuju rumahnya yang ternyata hanyalah sebuah rumah kontrakan di sebuah gang sempit.

Doktrin pun dimulai

Setibanya di rumah, saya dipersilakan masuk dan duduk (lesehan) di atas selembar tikar yang telah digelar. Lalu, tidak lama kemudian saya pun disuguhkan minum dari balik tirai/bilik oleh seorang wanita yang saya duga itu adalah istri dari Mas Tanto. Tidak lama berselang saya langsung diberikan semacam pelajaran seputar Islam melalui media whiteboard yang telah disiapkan dan sebuah Al-Qur’an. Disinilah inti dari doktrinasi dimulai, dengan menggunakan potongan-potongan ayat Al-Qur’an Mas Tanto memberikan saya sebuah keyakinan baru tentang ajaran Islam terutama yang saya ingat adalah tentang kedudukan negara Republik Indonesia bagi seorang muslim. Baginya, jika kita tinggal di Indonesia tidaklah diwajibkan menjalankan ibadah shalat karena Indonesia bukanlah negara Islam sehingga perlu mewujudkan negara Islam terlebih dahulu. Benar saja ketika adzan dzuhur berkumandang bukan pergi ke Masjid untuk shalat dzhur berjamaah justru mereka membiarkan suara adzan berlalu begitu saja, padahal saya sudah mengajak mereka untuk shalat berjamaah di Masjid tetapi mereka bilang tidak perlu ke Masjid cukup di rumah saja (bahkan tidak shalat pun bukan menjadi masalah bagi mereka). Disamping itu, saya juga diminta untuk memberikan sejumlah biaya sebagai shadaqoh yang sebenarnya untuk mendukung gerakan mereka. Inilah yang menjadi permasalahan karena seseorang akan mendapatkan uang untuk shadaqoh melalui berbagai macam cara meskipun harus mencuri dan menjual barang-barang berharga yang ada di rumah.

Kejanggalan dan keanehan itu tentu membuat saya mengerutkan dahi. Untung saja sebelumnya saya sudah pernah mempelajari tentang aliran-aliran sesat yang ada di Indonesia melalui sebuah buku karangan Hartono Ahmad Jaiz serta melalui diskusi dengan teman-teman di Rohani Islam ketika sekolah dulu sehingga doktrin-doktrin yang mereka sampaikan hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri🙂 .

Waktu pun semakin siang dan saya harus kembali pulang ke rumah. Ketika saya hendak pulang saya ditahan untuk tidak pulang terlebih dahulu karena akan ada teman Mas Tanto yang akan datang yang akan memberikan saya pelajaran tentang Islam lagi. Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki kurus memakai kemeja lengan pendek yang juga memberikan doktrinasi kepada saya sehingga saya tidak dapat pulang. Saya semakin tidak nyaman saat itu dan saya kembali mengajukan diri untuk pulang. Tetapi sebelum pulang mereka menitipkan sebuah pesan pada saya, “kapan-kapan kalau mau belajar tentang Islam lebih dalam lagi nanti saya akan ajak ke markas besar” tutur Mas Tanto. Hah, markas besar apaan tuh maksudnya ?

Akhirnya saya pulang membawa tanda tanya besar, dan ketika saya menceritakan hal ini kepada seorang Ustadz, ia mengatakan bahwa mereka adalah jaringan NII atau N Sebelas yang berusaha merekrut orang-orang khususnya anak-anak muda yang memiliki idealisme serta masih labil untuk diajak masuk kedalam kelompoknya melalui pencucian otak atau doktrinasi.

Masya Allah, ternyata benar dugaan saya bahwa mereka adalah jaringan NII yang disebut-sebut sebagai aliran sesat. Untunglah apa yang mereka katakan tidak saya telan mentah-mentah karena saya telah memiliki amunisi ilmu tentang jaringan tersebut sebelumnya. Hampir setiap hari saya kembali ditelepon untuk datang lagi ke rumah mereka tetapi saya selalu beralasan tidak bisa hingga akhirnya mereka bosan dan tidak lagi-lagi menelepon saya.*


Actions

Information

2 responses

23 09 2011
m. asep virotomo

NII sekarang bukan NII yang dulu lagi sekarang NII adalah oknum yang menyimpang dari cita – cita syariat islam yang sebenarnya, maka perlu adanya laporan kepada Ketua rt atau kantor polisi setempat, jangan ragu mereka bukan orang islam tapi hanya memanfaatkan agama islam sebagai tameng kebenciannya, pada hal indonesia yang telah islami bentuk negaranya dengan dasar pancasila terutama sila pertama dan yang perlu di bangun adalah bentuk islamisasi dari dalam diri sampai diri itu siap menjalankan syariat islam jangan islam yang memaksakan negara Islam tapi tidak siap pengikutnya akhirnya malah memfitnah umat islam itu sendiri

17 04 2012
Sutan

Iya benar mas asep. Selain itu, yang utama kita harus memiliki dasar tentang agama Islam itu sendiri dengan cara mengaji dan mengkaji sehingga tidak mudah menerima doktrin yang menggunakan kedok Islam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: