Refleksi Diri Dalam Mihrab Cinta

29 12 2010

Menjadi orang baik terkadang menjadi tidak dianggap baik oleh orang yang hatinya  tidak baik meskipun secara tampilan terkesan ia orang baik-baik.

Hal itu tercermin dalam film Dalam Mihrab Cinta (DMC) yang disutradarai Habiburrahman El Shirazy, seorang penulis novel Islami yang hampir setiap novelnya diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Dalam film DMC, Burhan (Boy Hamzah) seorang santri di salah satu Pondok Pesantren di Pekalongan berteman dengan santri baru bernama Syamsul Hadi (Dude Harlino), namun Burhan ternyata menaruh dengki terhadap Syamsul dan akhirnya Syamsul di Fitnah telah mengambil dompet di kamarnya Burhan padahal Burhan-lah yang menyuruh Syamsul untuk mengambil dompet tersebut. Setelah Syamsul tertangkap basah mengambil dompet Burhan hingga dipukuli sampai babak belur dan Syamsul telah bersumpah bahwa dirinya hanya disuruh Burhan untuk mengambil dompetnya tetapi Burhan justru tidak mengakui bahwa dirinya telah menyuruh Syamsul hingga akhirnya Syamsul diusir dari Ponpes tersebut.

Meskipun Burhan seorang santri dan terlihat orang baik-baik ternyata dia telah sukses melakukan fitnah yang menyebabkan orang lain terluka bahkan hingga keluarga dan masyarakat memusuhi orang yang difitnahnya.

Akhirnya Syamsul berjuang sendiri untuk tetap menjadi orang baik meskipun orang-orang disekitarnya telah men-cap dirinya seorang yang tidak baik. Tidak mudah menjadi orang baik karena hawa nafsu untuk melakukan kejahatan juga menyelinap dalam ruang hatinya, hal itu karena didorong oleh keterpaksaan yang pada akhirnya Syamsul pun mencuri demi menghidupi dirinya setelah pergi dari rumah orangtuanya. Hingga suatu saat ia tersadar apa yang telah dilakukannya salah dan kemudian bertaubat utnuk tidak melakukan kesalahannya sekalipun terpaksa.

Begitulah cara setan menjerat manusia dengan bisikan-bisikan hawa nafsu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik yang dilarang agama (karena pada dasarnya setan juga akan tetap melakukan ekspansi kejahatannya kepada orang baik sekalipun).

Momentum yang menjadi titik balik Syamsul untuk tetap menjadi orang baik adalah saat ia memberanikan diri menjadi seorang guru yang mengajarkan mengaji salah seorang anak orang kaya. Meskipun saat itu ia masih suka mencopet dompet di angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun ia merasa terpukul saat dirinya dipanggil dengan sebutan ‘Ustadz’ dan ia diamanahi oleh orang kaya tersebut sejumlah uang untuk disedekahkan. Ia baru sadar untuk apa menjadi orang yang tidak baik sementara masih ada orang-orang yang memanggil dengan panggilan yang baik dan menganggap dirinya orang baik-baik. Tidak seperti si burhan yang tampilannya saja yang terkesan baik tetapi hatinya tidak baik.

Tidak akan pernah rugi menjadi orang baik karena kesudahannya nanti akan menjadi kebaikan, di dunia dikenal menjadi orang baik maka ketika mati pun akan tetap dikenal sebagai orang baik.

Selamat menjadi orang baik🙂


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: