Belajar Menjadi Ayah

15 06 2010

Menjadi seorang ayah, itu impian saya dan hampir setiap lelaki khususnya bagi yang telah melangsungkan pernikahan. Kebahagiaan yang tiada tara tentu menyelimuti seluruh relung jiwa tatkala hadirnya si buah hati yang bakal menghiasi hari-hari. Lebih dari itu, ada harapan yang menyemburat dengan kehadiran si buah hati, yaitu adanya generasi penerus yang dapat melanjutkan tongkat estafet perjalanan panjang kehidupan sang ayah baik ketika masih hidup maupun ketika sudah tiada. Paling tidak, ketika sang ayah sudah tiada ada yang mendo’akannya seperti yang tertulis dalam hadits Nabi SAW berikut : Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : Apabila seseorang diantara kamu wafat maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendo’akannya.(HR. Muslim)

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah yang harus dijaga. Saya pernah ber-azzam pada diri saya, apabila saya memiliki anak maka akan saya jadikan anak saya agar memiliki iman sehingga ia mampu survive di tengah-tengah lingkungan dan zaman yang semakin tak terkendali seperti sekarang ini, memiliki kecerdasan sehingga ia tidak bodoh dan di bodohi, memiliki hati nurani sehingga ia mampu ber-empati dengan orang-orang disekitarnya dan tidak menjadi anak yang udzub, sombong dan arogan, semoga…🙂

Seperti yang terdapat pada buku Robert T. Kiyosaki yang berjudul ‘Rich Dad, Poor Dad’, seorang ayah memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pribadi, mental dan pola pikir anak. Seorang ayah yang mendidik anaknya untuk malas maka kelak tidak akan mendapatkan hasil (kekayaan), sebaliknya jika anak telah dididik untuk berusaha, mandiri dan bekerja keras maka anak tersebut akan merasakan dan menikmati hasilnya kelak.

Namun, yang saya tangkap dalam buku itu sepertinya perspektif Robert T. Kiyosaki lebih mengarah pada kekayaan materi, sementara menurut saya kekayaan yang sebenarnya lebih dari sekedar materi, melainkan dapat berupa kekayaan pengalaman dan kekayaan ilmu yang menjadi tiang untuk tegaknya bangunan jati diri sang anak.

Ayah adalah teladan yang dapat menjadi seorang guru yang mengajarkan ilmu, teman untuk bermain dan sahabat untuk berbagi dengan sang anak, alangkah menyedihkan bila ada seorang ayah yang tidak dapat menjadi teladan bahkan hingga menelantarkan anaknya. Banyak faktor yang menyebabkan seorang ayah berbuat seperti itu, di antaranya :

  1. Tidak bisa menerima kehadiran anak karena hanya akan menambah beban hidup;
  2. Tidak mengerti cara mendidik anak sehingga ia menjaga jarak dengan sang anak;
  3. Kesibukan di luar rumah, baik bekerja maupun untuk menjalankan urusan lain sehingga tidak memiliki waktu yang cukup dengan sang anak;
  4. Menganggap anak bukanlah prioritas dalam hidupnya karena masih banyak hal-hal yang lebih harus ia pikirkan.

Jika hal tersebut di atas menghinggapi diri sang ayah, maka siap-siaplah menerima azab Allah karena dirinya tidak dapat menjaga anak yang menjadi bagian dari keluarga seperti yang terdapat pada Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Alhamdulillah akhirnya Allah pun memberikan saya keturunan anak laki-laki yang lahir pada 17 Agustus 2009 yang lalu. Penantian panjang pasca pernikahan selama 6 bulan akhirnya terjawab sudah dengan munculnya bayi mungil yang lahir di Subuh hari tersebut. Saya hanya ingin menjadi ayah yang bermakna bagi keturunan saya sehingga kelak mereka akan merasakan hasil positif dari  semua yang saya berikan dan akan berkata :


Actions

Information

2 responses

31 10 2010
nofxkidrock

bagus sekali tulisannya mister..
saya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah..(walopun hubungan kami diluar nikah)
tapi karena jabang bayi adalah anak saya maka saya sangat senang dan segera akan menikahinya..
semoga saya bisa menjadi seorang ayah yang baik buat dia..
(:

23 11 2010
Sutan

Waduh ‘kecelakaan’ ya mas…
Anyway, nasi sudah menjadi bubur dan tidak mungkin kembali menjadi beras, untuk itu berilah bumbu, kecap, dan krupuk supaya bisa menjadi bubur yang spesial. Semoga mas bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk keluarga dan di hadapan Allah SWT..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: