Long Road to the World (Part 2)

22 08 2009

ummimels

Istri saya mulai masuk ruang rawat di kamar bersalin pada Sabtu (15/08/09) pukul 22.00 WIB setelah melakukan kontrol kandungan dan dinyatakan sudah pembukaan satu. Setelah masuk ruang rawat ternyata hingga Ahad pagi (16/08/09) istri saya juga belum naik pembukaannya, sementara ada tiga orang ibu yang akan melahirkan tanpa harus dirawat dan menunggu lama layaknya istri saya, dalam hati saya pun bergumam, “duh enak banget kalo udah lahiran ya, tenang”. Menurut Dr. Lina, meskipun sudah pembukaan satu tapi mulut rahim istri saya masih tebal dan belum lunak sehingga jarak ke pembukaan selanjutnya lumayan cukup lama tidak seperti yang pada umumnya hanya berselang 2-3 jam, maklum melahirkan anak pertama memang demikian problematikanya.

Kemudian setelah tidak kunjung menunjukkan perkembangan yang signifikan, akhirnya istri saya di induksi atau dirangsang melalui infus agar kontraksinya lebih sering lagi dan naik pembukaannya. Namun setelah di infus hingga Ahad siang, ternyata istri saya juga tidak merasakan kontraksi seperti yang diharapkan justru sepertinya biasa-biasa saja, entah cairan infusnya yang kurang sakti atau istri saya yang memang ‘kebal’🙂

Waktu pun terus berputar hingga jam menunjukkan pukul 19.00 WIB belum ada tanda-tanda naiknya pembukaan dan indikasi melahirkan. Infus tidak memberikan pengaruh apa-apa, padahal biasanya ibu yang di induksi melalui infus sudah langsung menunjukkan reaksi berupa kontraksi atau mules-mules sehingga mempercepat pembukaan. Bidan pun menelpon Dr. Lina untuk menanyakan tindakan apa yang dapat diberikan kepada istri saya, dan ternyata Dr. Lina menyarankan untuk dirangsang menggunakan balon yang diisi air (sebuah selang elastis yang biasa disebut balon untuk merangsang kontraksi) yang kemudian dimasukkan kedalam leher rahim. Balon pun meluncur memasuki ‘terowongan’ pada pukul 19.15 WIB, dan tidak lama setelah dipasang ternyata istri saya menunjukkan reaksi yang sangat cepat. Istri saya merasakan kontraksi disertai rasa sakit yang luar biasa di area perut hingga pinggul bagian belakang. Miris melihat istri yang kesakitan begitu tanpa bisa berbuat apa-apa, paling-paling hanya mengusap-usap pinggul bagian belakangnya. Setelah 1 jam dipasang balon istri saya tidak kuat lagi menahan sakit dan minta untuk dilepas. Akhirnya pukul 20.15 WIB balon pun dilepas, kemudian istri saya kembali dicek pembukaannya dan alhamdulillah pembukaannya meningkat ke pembukaan 3, tetapi setelah dilepas istri saya bukannya berkurang sakitnya justru makin merintih kesakitan.

grafik_kontraksi“Duh ngga tega juga melihat istri yang merintih kesakitan” dalam hati saya berkata. Ya sudah saya berikan motivasi saja sambil terus berdzikir. Tapi karena sakit yang memang tidak bisa ditahan, istri saya pun berbisik ke telinga saya, “mas umi udah ngga kuat nahan sakit nih”, dan saya pun cuma bisa memberikan semangat, “sabar aja ya mi, insyaAllah ga lama lagi ko”. Lalu, kira-kira 1 jam kemudian pada pukul 21.30 WIB istri saya kembali dicek pembukaannya, dan alhamdulillah ternyata istri saya sudah pembukaan 5. Senang juga saya mendengar sang bidan menyebutkan bahwa istri saya sudah pembukaan 5, tetapi istri saya masih terus-terusan merintih kesakitan dan justru semakin menjerit.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, saya masih mendampingi istri yang menjerit kesakitan. Istri saya sepertinya sudah kehabisan tenaga untuk bisa melahirkan normal, maklum dari sejak dirawat di kamar bersalin istri saya tidak bisa tidur sehingga tidak ada tenaga yang terkumpul, terlebih makanan yang diberikan rumah sakit tidak dimakan semua hanya 1-2 suap saja. Akhirnya istri saya mulai menyerah dengan rasa sakit yang tidak pernah dibayangkannya dan meminta untuk dilahirkan dengan operasi Caesar. Berkali-kali istri saya meminta untuk operasi saja tapi saya selalu bilang, “tanggung mi udah pembukaan 5 paling ga lama lagi”, lalu dengan nada yang sayu istri saya berkata, “mas sih ga tau sakitnya kaya apa, udah mas bilang dokternya umi minta dioperasi aja”. Sebenernya saya dilematis membiarkan istri merintih menahan rasa sakit karena kalau mau dioperasi tanggung sudah pembukaan 5 tapi disisi lain istri saya sudah tidak kuat lagi dan tenaganya pun sudah habis sehingga dikhawatirkan tidak bisa melahirkan secara normal. Tapi bidan selalu bilang ke saya, “sayang Pa kalau di operasi paling-paling besok Senin subuh (17/08/09) sudah melahirkan”, saya pun termakan oleh perkataan sang bidan dan harus rela membiarkan istri menahan sakit meskipun tidak tega juga .

Hingga waktu menunjukkan pukul 04.15 WIB di Senin pagi (17/08/09), istri saya masih tidak bisa tidur karena menahan sakit dan terus meminta untuk dioperasi saja, tetapi pembukaannya sudah beranjak naik ke pembukaan 6. Semakin ada tanda-tanda kemajuan untuk bisa melahirkan normal, tetapi istri saya dengan pasrah berkata, “percuma mas kalau pun mau menunggu hingga lahir normal umi ga akan punya tenaga untuk bisa ngeluarin dede nantinya”. Duh makin resah aja saya, bingung harus mengambil keputusan apa. Akhirnya saya mengambil keputusan agar istri saya melahirkan caesar karena saya sudah ga tega melihat istri yang meraung kesakitan.

Bersambung ke Long Road to the World (Part 3, End)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: