Menyempurnakan agama pasca pernikahan

30 12 2008

lentera1Menikah merupakan ibadah agung, betapa tidak dengan menikah kita telah menyempurnakan setengah dari agama. Dalam sebuah hadits bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “Jika seorang hamba menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian lainnya” (HR. Baihaqi dengan sanad hasan).

Beruntunglah bagi yang telah menikah karena ia telah berusaha untuk menyempurnakan agamanya meskipun baru separuh perjalanan, selebihnya hanya diperlukan modal ketakwaan. Namun tidaklah mudah untuk menapaki jalan takwa setelah seseorang melakukan pernikahan karena begitu banyak jalan terjal dan berliku di dalamnya. Seseorang yang telah menikah akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik ujian yang bersifat kesusahan maupun kesenangan (istidraj). Namun, bagi seseorang yang telah memiliki kefahaman tentang ujian maka ia akan melewati berbagai ujian tersebut dengan arif dan bijaksana (wise) serta tetap berada dalam frame syariah karena ketakwaan telah melekat dalam jiwa dan raganya.

Abu Bakar Ash-Shidiq r.a menggambarkan ketakwaan dengan sebuah perumpamaan (amsal). Beliau mengatakan bahwa ketakwaan adalah seperti engkau berjalan di atas batu kerikil yang tajam, maka engkau akan berhati-hati dalam berjalan di atas bebatuan tersebut. Ya, begitulah setidaknya ketakwaan digambarkan. Kehati-hatian (Al-Wara’) menjadi kunci dalam hal ini. Jika ini diterapkan dalam kehidupan pasca pernikahan atau dalam kehidupan berumah tangga, maka ketakwaan adalah ketika seorang suami atau istri selalu merasa tetap dalam penjagaan Allah sehingga mereka senantiasa berhati-hati dalam menjaga biduk rumah tangganya. Seorang suami tidak akan memberikan nafkah dari rejeki yang haram kepada istrinya karena ia sadar bahwa dirinya selalu merasa di awasi oleh Allah SWT sehingga dirinya tetap dalam kehati-hatian dalam melakukan setiap hal demi menjaga mahligai rumah tangganya dan inilah sebuah ketakwaan. Begitupun sang istri selalu dapat menjaga diri ketika suami tidak berada di sampingnya karena lagi-lagi ia merasa bahwa dirinya selalu diawasi Allah sehingga kehati-hatian tetap menyatu dalam setiap gerak dan langkahnya, dan ini pun sebuah ketakwaan meskipun hal ini adalah sebuah contoh kecil dari sekian banyak nilai-nilai ketakwaan yang dapat dilakukan oleh seseorang yang telah menyempurnakan setengah dari agamanya. Dengan ketakwaan yang diwujudkan melalui kehati-hatian dalam melakukan amal perbuatan antara kedua pasangan maka akan diperoleh ketenangan, kelanggengan dan keberkahan dalam berumah tangga sekaligus menjadi jalan untuk menyempurnakan agamanya. Wallahu’alam. *irm


Actions

Information

6 responses

16 03 2009
abigibran

semoga agamaku kian sempurna .. dengan nikah. nikah aaachhhh !!!

4 05 2009
imamrm

Jangan takut menikah karena Allah telah menjamin hambanya yang melakukan nikah dalam rangka ibadah kepadaNya dan Alhamdulillah meski saya nikah di usia muda ga ada halangan yg berarti malahan banyak anugerah dan nikmat Allah yang saya terima. Selamat menikah ya…

31 03 2010
marwa

menikah? ya tuhan… it sounds so great (and scary). tapi aku masih nggak mudeng kenapa nikah bisa menyempurnakan setangah dari agama allah. lalu yang setengahnya gimana?

1 04 2010
Sutan

Setengah lagi kita tinggal menjalankan ketaqwaan kepada Allah SWT. Karena jika sesorang sudah menikah maka akan menutup pintu zina dan kita dapat lebih fokus menjalankan ibadah secara sempurna..

2 07 2011
Zamroni Ahmad

monggo di simak…

20 11 2012
Bang Uddin

Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata “…maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya”.

Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: