Mempertuhankan Hawa Nafsu

20 01 2011

Hidup di akhir zaman seperti sekarang ini semakin terlihat saja keanehannya, hal-hal yang tidak biasa sudah dipandang lumrah bahkan telah menjadi kebiasaan (habit) bagi sebagian orang. Dosa menjadi suatu hal yang tidak lagi diperdulikan karena kesenangan dan kepuasanlah yang dipertuhankan. Naluri sebagai manusia sosial yang sangat menghargai sesama telah diacuhkan. “Masa bodo dengan pendapat dan penilaian orang yang penting gue have fun”, kilah manusia-manusia bodoh yang pikirannya terkerdilkan oleh akal busuk yang telah dirasuk setan-setan yang sudah berbentuk sama dengan keturunan Adam.

Pada akhirnya, dengan dalih mengikuti trend banyak wanita yang berjalan lenggak-lenggok sambil menghisap sebatang rokok dan hanya mengenakan pakaian kurang bahan untuk menutupi body-nya yang tampak seronok. Namun hal itu bukan menjadi sesuatu yang tabu justru menjadi penyejuk mata bagi laki-laki si hidung belang yang di dalam memori otaknya hanya tersimpan perbendaharaan kata yang tidak jauh dari sex, pornografi, dan pornoaksi. Laki-laki seperti itu kerap melakukan penetrasi untuk menyebarkan virus-virus yang ada di otaknya melalui berbagai media (terutama internet) agar semakin banyak lagi manusia-manusia lain yang sama seperti dirinya. Efeknya, perbuatan mesum merajalela dari anak-anak sekolah sampai pejabat pemerintah. Maka, menjadi sangat pas jika film yang digarap oleh Dedy Mizwar yang berjudul ‘Alangkah Lucunya Negeri ini’ menjadi ‘Alangkah Mesumnya Negeri ini’ :-)

Bukan hanya itu, masih banyak lagi ragam ketidakwajaran yang sudah menjadi hal yang biasa di negeri  ini. Orang–orang bahkan institusi sekalipun yang menjadi kepercayaan masyarakat nyatanya sudah tidak lagi dapat dipercaya, semua problem di negeri ini penuh dengan rekayasa yang sarat dengan nuansa politis. Slogan demokrasi pun sudah berubah menjadi ‘dari uang, oleh uang  dan untuk uang’ karena memang di negeri ini uang yang menjadi panglimanya sehingga yang jadi terdakwa pun bisa menjadi walikota dan sang tahanan pun bisa plesiran ke tempat wisata. Beragam ketidakwajaran itulah yang menjadi penghalang datangnya keberkahan di negeri ini. Alih-alih Allah memberikan keberkahanNya, malah harga cabai yang melambung dengan tanpa kita sadari itu merupakan bagian dari adzabNya.

Hakekatnya, mereka semua sudah salah memilih Tuhan, karena ajaran Tuhan yang sebenarnya sungguh sangat berbeda kutub dengan hal tersebut di atas. Manusia-manusia seperti itu telah terjebak oleh dirinya sendiri, terkurung oleh fatamorgana dunia yang telah menjerat mereka demi kesenangan yang sesungguhnya semu, karena Tuhan yang ada di jiwanya cuma ada satu,  hawa nafsu.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? (QS. 45 : 23)


Actions

Information

2 responses

26 01 2011
abu4faqih

Sungguh pengingatan yang menyejukkan, di tengah dunia “hawa nafsu’ yang kering lagi hampa ini … Thanks, Bro.

2 02 2011
Sutan

Sama2 mas, thanks juga udah berkenan meluangkan waktunya untuk menyimak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: