Setelah saya mengambil keputusan untuk operasi caesar, saya pun akhirnya mengisi dan menandatangani form pengajuan untuk operasi caesar di kasir lantai dasar. Setelah selesai mengurus semua persyaratan, saya lalu kembali ke kamar bersalin dengan langkah ragu sekaligus gelisah, betapa tidak amat sangat sayang bila harus dioperasi karena sudah pembukaan 6, terlebih lagi bila memikirkan biaya yang dikeluarkan dua kali lipat lebih dari biaya melahirkan normal atau senilai 9,7 juta, tetapi karena sudah ga tega melihat istri, saya pun ‘terpaksa’ mengurus proses operasi saat itu juga.
Namun ketika saya mendekati kamar bersalin untuk menyerahkan form pengajuan operasi ke petugas kamar bersalin, tiba-tiba keluarlah salah satu bidan dan meminta saya untuk menyiapkan gurita bayi, stagen, kain dan baju istri. “Loh, memangnya istri saya sudah mau melahirkan ?” tanya saya kepada bidan tadi. Lalu sang bidan kembali berkata. “iya pa istrinya sudah pembukaan 8 sebentar lagi mau melahirkan”. Subhanallah, saya pun dengan cekatan mengambil segala perlengkapan yang dibutuhkan dan langsung masuk mendampingi istri saya untuk melahirkan secara normal. Sambil di ‘tuntun’ oleh 3 orang bidan istri saya mulai mengejan, dan beberapa waktu kemudian tiba-tiba Dr. Lina pun datang ke ruang persalinan.
Di sinilah Allah menunjukkan kebesaran-Nya dengan memberikan pertolongan dan kemudahan kepada istri saya untuk melahirkan. Pukul 04.30 WIB perlahan istri saya berulang-ulang mengejan untuk mengeluarkan janin sambil sang bidan mendengarkan detak jantung janin dan mengecek kembali pembukaannya. Alhamdulillah, setelah dicek ternyata sudah mencapai klimaks di pembukaan 10, kemudian salah satu bidan mulai memecahkan air ketuban dengan menggunakan sebuah alat, dan… “Byurrr…”, ketuban pun akhirnya pecah. Tetapi, setelah beberapa kali mengejan sesudah air ketuban dipecahkan istri saya sempat berkata, “dokter maaf saya sepertinya sudah ngga kuat lagi”, istri saya seperti kehabisan tenaga. Namun saya terus memberi semangat, “ayo mi pasti bisa tinggal sebentar lagi, AllahuAkbar…”, kemudian istri saya seolah-olah memperoleh energi baru untuk melanjutkan proses mengejan. Sambil diberikan aba-aba oleh bidan istri saya kembali mengejan, dan beberapa saat kemudian terlihatlah rambut kepala si kecil, lalu bidan memberi aba-aba lagi kepada istri saya untuk mengejan serta memberikan motivasi, “ayo bu sudah keliatan nih rambutnya, paling 2-3 kali mengejan lagi bayinya keluar”.
“Satu…dua…tiga…”, sang bidan memberikan aba-aba lagi, kemudian istri saya menyusulnya dengan kembali mengejan. Dan….. apa yang terjadi, menjelang adzan Subuh tepat pukul 04.45 WIB di hari Senin, 17 Agustus 2009 keluarlah sesosok bayi mungil seberat 2,7 Kg dan panjang 47cm dengan selamat, sehat dan sempurna. Ya, dialah buah hati yang selama ini dinanti, sebagai manusia baru yang hadir di dunia untuk mengarungi samudera kehidupan.
Kemudian, setelah dikeluarkan dari rahim, si kecil langsung ditempatkan di dada ibunya untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). IMD bertujuan untuk merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi pendarahan pada ibu. Benar saja, dengan melakukan IMD plasenta yang dikeluarkan oleh Dr. Lina dari rahim istri saya pun sangat mudah, dan istri saya juga hampir tidak merasakan sakit sedikit pun karena fokus perhatiannya tertuju pada bayi mungul yang ada di dadanya. Di samping itu, sentuhan dari bayi pada saat IMD juga dinilai dapat merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, relaks dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara.
Setelah sesaat melakukan proses IMD, saya pun kemudian adzan dan iqamat di kedua telinga anak saya sembari terharu dan bersyukur hingga saya tidak sanggup lagi menahan air mata. Rasanya pagi itu menjadi pagi yang indah dalam hidup saya, “terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikan anugerah terindah di pagi hari ini, jadikanlah anak kami menjadi anak yang shaleh, taat kepadaMu dan RasulMu, berbakti kepada kami, dan hidupnya bermanfaat bagi makhlukMu di muka bumi ini”. Amin

- Abi and Ummi love ‘Fatih’ Full -
Recent Comments